Berbagi

Posted: August 26, 2009 in Lagi Bener :), My Day

Sepasang suami istri yg berusia lanjut, suatu kali mengunjungi kantor pusat untuk bernostalgia tentang suka duka saat mereka bekerja dulu. Kesempatan nostalgia ini dimanfaatkan mereka untuk menikmati sop buntut yang tersohor di kantin kantor tersebut. Kebetulan sedang jam makan siang sehingga banyak pegawai yang bersantap sian di kantin itu.

Suami istri itu masuk antrean memesan sop buntut, kemudian memesan satu porsi sop buntut beserta nasinya, dan dua gelas es teh manis serta sebuah piring dan mangkok kosong. Semua yang melihat mereka heran, sepasan suami istri ini hanya memesn satu porsi. Bahkn, beberapa yg lainnya iba melihat betapa menderitanya nasib pensiunan ini sehingga untuk makan siang saja hanya memesan satu porsi. Sang suami lalu membagi nasi menjadi dua bagian, demikian pula sop buntutnya, stu bagian untuknya dan satu bagian untuk istrinya. Mulailah mereka makan. Namun yg makan terlebih dahulu dalah sang suami. sementara sang istri dengan tersenyum menunggu dan menatap kekasihnya makan.

Seorang pegawai tiba2 bangkit berdiri dan berjalan menuju meja mereka. Dengan rasa iba, pegawai ini menawarkan kepada pasangan suami-istri ini satu porsi lagi sop buntut gratis, ia yg mentraktir. Dia merasa tidak tahan melihat sepasang suami-istri ini, sementr ia hidup berkecukupan. Namun tawaran pegawai ini ditolak secara halus sambil tersenyum oleh pasangan ini dengan menggunakan bahasa isyarat.

Sang suami pun kembali melanjutkan santap siangnya, sementara sang istri hanya menatap sambil tersenyum hingga sop buntut bagiannya menjadi dingin. Setelah beberapa lama, kembali pegawai yg berkecukupan itu gelisah melihat tingkah pasangan ini. Sang istri ternyata tidak makan, hanya menunggu sang suami makan. Betapa cintanya sang istri kepada suami hingga rela berkorban menunggu sang suami selesai makan.

Kembali, pegawai tadi dengan rasa penasaran mendatangi sang ibu dan bertanya, “Ibu, saya melihat ibu hanya menunggu bapak makan sementara ibu sendiri tidak makan. Kalau boleh tau, apakah yang ibu tunggu?” Dengan tersenyum sang ibu menjawab, “yang saya tunggu adalah gigi, sementara ini masih dipakai bapak”


Sumber: Parlindungan marpaung. Majalah Paras No. 52

Comments
  1. Azha says:

    Bikin gigi palsu emang mahal… Halah..

  2. liew267 says:

    Iiiihh.. Azhar ne,lain itu intinya, tapi bujur jua pang,haha..

  3. Wawan says:

    Waduh lucu, ternyata menunggu giliran

    Ada rencana membuat komunitas blogger di Tanah laut, mau ikutan bantu??, hitung-hitung ikut berjuang di kampung halaman sendiri, dan membantu mengenalkan dunia blogging di Tanah laut(khususnya Pelaihari)

    Salam Kenal(ading kelas SMANPEL) angkatan 07

  4. Fatra kadafi says:

    Kya’x plu blajar byk ma lili neh,he

  5. liew267 says:

    Belajar apa nih mas? He.. Sy jg masih belajar..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s