Mt. Bromo (III)

Posted: September 12, 2013 in Jalan-jalan, My Day
Tags: , , , , , ,

May 5th, 2013 Because we are intended to cashing and watching sunrise at Mt. Bromo Area, hence we have to wake up in the middle of the night and have to go straightaway.

Ok sampai di sini saja English nya, tadinya mau sok2an pake english tapi sadar grammar jelek dan mikirnya lama.. g jadi deh :P 

5 Mei 2013 Karena berniat mengejar dan melihat sunrise di kawasan Gunung Bromo, maka kami harus bangun tengah malam dan berangkat tengah malam juga. Pukul 00.00 harus sudah bangun dan bersiap dengan perlengkapan armor masing2. Pakai baju/jaket berlapis-lapis mengingat cuaca dini hari sangat dingin, dan kemungkinan akan lebih dingin lagi saat di kawasan Gunung Bromo. Pukul 01.00 rombongan diantar oleh mobil Elf ke tempat mobil Jeep yang akan membawa kami ke penanjakan dan ke gunung Bromo. Mobil Jepp tersebut berkapasitas 6 orang sehingga rombongan dibagi menjadi dua.

Sekitar pukul 02.00 kami berangkat menuju penanjakan untuk menunggu sunrise, spot sunrise watching yang sering didatangi orang-orang adalah penanjakan 1, namun karena saat itu bertepatan dengan rencana rombongan Presiden RI Bapak SBY yang juga akan melihat sunrise maka rombongan kami harus dibelokkan ke spot penanjakan 2. Rombongan kami dihentikan ditengah perjalanan karena akan ada rombongan Presiden yang lewat, padahal waktu sudah sekitar pukul 03.30. Sembari menunggu rombongan presiden lewat, saya sempat melihat ke langit, samar-samar terlihar milky way. Benarkah itu milky way? Atau saya hanya membayangkannya saja? Entahlah..

Dari tempat Jepp diparkirkan kami harus berjalan kaki lagi ke atas untuk dapat mencapai spot sunrise watch yang pas. Banyak jasa penyewaan kuda untuk pengunjung yang merasa tidak kuat menanjak dengan harga sewa lumayan mahal (Rp. 100.000,- dari bawah, semakin ke atas semakin murah). Karena merasa masih muda dan masih fit :p saya dan teman-teman memutuskan untuk mencoba jalan kaki saja, lagipula masih pagi dan segar (read: dingin banget) jadi sekalian menghangatkan badan. Dengan mindset seperti itu, jalanlah saya dengan santai yang ternyata semakin lama semakin menanjak (ya iya laaah) dan kecepatan jalan pun semakin berkurang. Mulai lah saya ketinggalan dari teman-teman rombongan. Penanjakan dilakukan bersama ratusan pengunjung lain dan juga kuda-kuda yang membawa pengunjung yang malas atau ga kuat jalan sendiri. Pada akhirnya dengan bantuan tarikan dan dorongan, sampai juga di atas dengan ngos-ngosan.

DSC_5311

Kemudian kami menunggu sunrise bersama-sama. Matahari terbit dari sebelah kiri dan kawasan komplek Bromo – Semeru – Batok terlihat di sebelah kanan. Sungguh pemandangan yang menenangkan. Setelah puas menikmati sunrise dan matahari pagi (puas foto-foto juga tentunya), kami turun kembali menuju mobil Jepp untuk kemudian pergi ke lokasi Gunung Bromo. Karena sudah terang, barulah terlihat jalan bagaimana yang tadi kami daki. Ternyata memang sangat tinggi, dan dipinggir jurang, dan banyak kotoran kuda (yang pas naik cuma kecium baunya aja). Pemandangan sepanjang jalan pun menyejukkan mata, dikelilingi pegunungan yang hijau.

20130505_062417

Setelah menikmati pagi yang segar dan cerah di penanjakan, kami melanjutkan perjalanan menggunakan Jeep ke lereng gunung Bromo. Gunung bromo merupakan gunung berapi yang masih aktif, dikelilingi oleh lautan pasir. Lautan pasir tersebut jika dilihat dengan seksama memiliki pasir yang blink-blink berkilau. Jeep diparkirkan di area parkir khusus jeep, untuk mencapai Bromo sudah pasti harus jalan kaki (lagi). Tapi untungnya, kami boleh meminjam motor trail milik panitia jadi bisa sampai ke kaki Bromo lebih cepat. Saya pikir setelah mencapai kaki gunung, bisa langsung menaiki tangga menuju puncak Bromo. Ternyata untuk mencapai kaki tangga saja harus melalui lereng gunung yang pastinya jalan menanjak (lagi) dan dengan dasar berpasir debu-debu dari gerakan kaki pengujung pun berterbangan. Masker dan kacamata adalah perlengkapan yang harus dipakai jika anda ke Bromo. Saya sendiri heran, darimana datangnya kekuatan di kaki untuk mendaki lagi, dari subuh buta kerjanya mendaki dan mendaki.

20130505_07242120130505_073105

Setelah sampai kaki gunung Bromo, pendakian ke puncak kawah difasilitasi oleh tangga ber-cat kuning yang konon kata orang-orang hitungan anak tangganya berubah-ubah. Ya iya lah siapa yang punya cukup konsentrasi untuk menghitung anak tangga sampai ke atas, konsentrasi untuk tetap jalan saja perlu niat dan usaha besar (haaa lebay dikit). Sungguh stamina saya yang depleting nya cepat atau memang naik tangga itu bikin capek sekali, kecepatan saya jika dibandingkan dengan orang lain yang serombongan dengan saya sungguh jauh, saya sebentar-sebentar berhenti, dan jika menemui check point (tempat istirahat yang dibuat diluar jalur tangga) saya menghabiskan waktu cukup banyak untuk duduk di sana. Kebetulan (kalau memang ada yang namanya kebetulan) pada saat itu angin sedang kencang-kencangnya, jadilah debu dan pasir berterbangan, untuk membuka mata tanpa kelilipan sungguh sulit. Menyesal saya tidak bawa kacamata, yang ada jadinya mata saya tutup dengan syal. Perjalanan naik ke puncak Bromo ini saya sebut sebagai “to Bromo with tears” karena kelilipan parah dan mengasilkan deraian air mata tak berhenti #Eaaaahh.

20130505_074213 Hiks

Setelah menjadi peserta rombongan yang terakhir mencapai puncak Bromo, I can barely saw the crater due to the dust and the wind was so strong. Selain itu, begitu saya sampai saya hanya melihat-lihat sebentar, sebagian besar waktu saya digunakan untuk mencari posisi membelakangi arah angina dan sambil merem, anggota rombongan yang sudah lama di atas malah mengajak turun kembali. Heuuu saya di atas paling lama 15 menit. Perjalanan turun pun perjuangannya tidak mudah, turun tangga sih mudah, tapi untuk turun tangga sambil merem itu yang sulit. Sekali lagi kami harus berjuang melawan angin yang membawa debu dan pasir, dan karena saya hanya mengandalkan syal untuk menutupi mata, andalan saya yang lain adalah berpegangan dengan teman saya. Saya percaya aja lah mau dibawa kemana. Sayangnya kami tidak sempat mengunjungi Candi yang ada di kawasan lautan pasir karena sudah tidak tahan dengan angin kencang pembawa debu.

20130505_083441

Setelah kembali ke Jepp, semua baru menyadari bahwa muka dan badan dan baju dan segala yang menempel dibadan, penuh debu dan pasir hitam, heuuu.. cukup lucu karena membuat kami tertawa melihat penampilan masing-masing yang bertopengkan pasir dan debu. Dari kawasan Bromo, kami menuju bukit-bukit yang banyak disebut sebagai bukit Teletubies karena bentuk bukitnya mirip dengan bentuk bukit yang jadi rumahnya Teletubies, sekali lagi kami berpapasan dengan rombongan Bapak Presiden yang menuju Bromo, dan sempat dadah-dadahan sambil mendoakan semoga Bapak dan Ibu Negara kuat diterpa badai angin + pasir + debu. Kami pun menyempatkan berfoto-foto ria di bukit teletubies.

DSC_5586

Setelah makan siang, kami kembali ke penginapan dan setelah bersih-bersih baju dan badan barulah terlihat betapa merasuknya itu debu dan pasir kedalam baju dan kulit. Padahal sudah memakai baju berlapis-lapis debu dan pasir tetap menembus ke kulit. Perjalanan pulang ke Jakarta (tiket Malang – Jakarta lebih murah daripada Malang – Bandung) memakan waktu yang sungguh lama, karena sering berhenti cukup lama, maklum namanya juga kereta full ekonomi.  Karena waktu perjalanan Malang – Jakarta yang molor diluar jadwal, kami ketinggalan kereta untuk Jakarta – Bandung. Jadi terpaksa Jakarta – Bandung menggunakan travel. Banyak pengalaman yang tak terduga di perjalanan kali ini, tapi semuanya menyenangkan dan menyegarkan sebelum masuk ke kantor kembali. Besoknya di kantor, badan pegel-pegel dan pengennya tidur, kemudian kena alergi gara-gara debu Bromo. Ahahahha benar-benar pengalaman tak terlupakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s