Menguji nyali di Green Canyon (Cukang Taneuh)

Posted: November 15, 2013 in Jalan-jalan, My Day
Tags: , ,

Awal bulan juni, saya dan teman-teman memutuskan untuk pergi menguji nyali ke Green Canyon. Menurut info, di sana kita bisa mencoba body rafting di aliran sungai yang cukup cepat dan durasi yang cukup lama, cukuplah untuk adrenalin junkie pemula. Selain itu, lokasinya dekat dengan beberapa pantai di sekitar Pangandaran, jadi bisa sekalian wisata pantai juga.

Kali ini kami tidak ikut paket trip tapi semuanya ngurus sendiri dan bersifat sharing cost. Pergi dengan menggunakan mobil sewaan dan menginap tepat di depan Pantai Batu Karas. Perjalanan memakan waktu sekitar 7 jam dari Bandung, jalan cukup lancar. Hanya saja perjalanan dari Pangandaran ke daerah Pantai Batu karas sedikit kurang nyaman karena jalannya sedang rusak sehingga mobil harus berjalan pelan sambil terguncang-guncang.

Menurut info teman saya yang sudah pernah pergi ke Green Canyon, sebaiknya ke sana pada saat kemarau, karena pada saat hujan air sungai akan menjadi keruh (tidak hijau) dan volume air sungai juga meningkat sehingga akan berbahaya untuk body rafting. And you know what, begitu sampai di penginapan setelah subuh, hujan turun dengan derasnya. Sedikit hopeless T.T Niat utama kami ke sana adalah ingin mencoba sensasi body rafting dan harus dimulai agak pagi karena durasinya cukup lama. Tetapi apa daya, hujan deras baru berhenti siang hari dan pemandu body rafting juga menolak untuk memandu karena sudah terlalu siang. Kami pun ditawarkan untuk mencoba kegiatan lain yaitu berenang. 20130608_135743 Awalnya saya agak underestimate dengan kata “berenang” dalam kalimat pemandu “naik perahu sampai ujung kemudian berenang sampai ujung lagi”. Saya sudah membayangkan kalau “berenang” disitu adalah “kecipak kecipuk main air”. Tapi daripada tidak ngapa-ngapain sama sekali, jadilah kami menyewa dua buah kapal dan dua orang guide dan pemandu.

Tebing di sisi sungai

Tebing di sisi sungai

Perahu kecil sarana mengarungi sungai

Perahu kecil sarana mengarungi sungai

Sekitar 30 menit perahu mengarungi  sungai (tsaelahh) sambil menikmati pemandangan hijaunya air dan tebing-tebing cantik di sisi-sisi sungai. Kemudian perahu mencapai tempat berbatu yang menjadi titik awal untuk memulai acara “berenang”. Tebing-tebing di sini lebih tinggi dan dialiri air terjun tipis dan segar, sungguh refreshing merasakan tetesan air dingin ke badan.

Di sana baru saya sadar kalau dugaan saya meleset terhadap kata “berenang”. Ternyata berenang yang dimaksud adalah berenang melawan arus sungai yang deras dan berbatu. WoHOO!!. Kalau body rafting adalah mengikuti arus dari hulu ke hilir, kalau “berenang” adalah dari hilir ke hulu. Kami pun di berikan jaket pelampung. Dan selagi memasang jaket pelampung, saya memandang ke depan dan sepertinya tidak ada cara yang memungkinkan untuk “orang biasa” berenang melawan arus kuat dan sungai berbatu seperti itu. So, how come? 

Titik terakhir kapal

Titik terakhir kapal

"berenang" melawan arus

“berenang” melawan arus

Kemudian salah satu pemandu mengeluarkan gulungan tali and I wondered what he will do with that. Ternyata tali tersebut digunakan untuk menjadi pegangan saat melawan arus. Sang pemandu berenang (iya berenang) sampai ke suatu check point (istilah ini saya yang bikin sendiri) dan menambatkan tali ke dinding tebing dan/atau batu, kemudian kami menarik tali tersebut sehingga kami “berenang maju melawan arus” dengan perantara tali tersebut. Dan arusnya KUAT BANGET, sampai-sampai bisa bikin kaki saya kram hanya karena arusnya. Di setiap check point saya perhatikan pemandu sudah terbiasa mencari check point berikutnya, sementara kami menikmati tetesan-tetesan dingin air terjun yang turun dari tebing. Tidak jarang di tebing-tebing tersebut banyak kepiting-kepiting kecil yang jalan-jalan ke tangan dan kaki saat kita berpegangan di sana.

IMG_20130623_111538IMG_20130623_111651 IMG_20130623_111328

Di perjalanan menuju ujung (yang tidak diketahui di mana), kami sempat di ajak untuk memanjat tebing yang cukup tinggi ke tempat yang konon namanya Kolam Putri. Entah dulu kala dipakai mandi oleh Putri-putri jaman dahulu atau oleh Putri Kayangan, tapi kolam tersebut berada di atas tebing yang cukup tinggi, dan berisi air dingin yang sangat segar sekali. Saya bertanya-tanya sendiri bagaimana cara seorang Putri memanjat ke tebing tinggi itu hanya untuk mandi, atauu mereka tidak memanjat tetapi terbang ahahha. Kami pun beristirahat sejenak di sana dan foto-foto pastinya.

Pemandangan dari kolam putri

Pemandangan dari kolam putri

Bersantai di kolam putri

Bersantai di kolam putri

Setelah beberapa waktu sampailah kami di tempat yang di sebut dengan “ujung” yaitu tempat dimana sungai mulai menaik dan sepertinya tidak mungkin untuk dinaiki dengan melawan arus, dan di tempat itu pula menjadi titik pertemuan antara peserta body rafting yang turun dari hulu. Di sana terdapat spot lompat yang terkenal yaitu Batu Payung, tingginya sekitar 4 – 5 meter. Yuppp karena dari bawah tampak tak terlalu tinggi, maka muncullah keinginan untuk melompat di sana. Saya sudah pernah mencoba untuk melompat dari tebing semacam itu dari ketinggian 2 m di gua Pindul, dan saya sekarang tertantang untuk melompat lebih tinggi. Kalau dulu lompat 2 meter ke air sungai yang tenang, sekarang di Batu Payung bedanya adalah: arus air deras yang menunggu di bawah dan sekali mendaki tebing untuk mencapai puncak maka tidak akan bisa kembali kebawah kecuali lompat.

Saya sudah sampai di atas dan penuh dengan hesitation sampai pemandu saya cukup kesal karena saya bolak balik bilang takut, lebih takut lagi kalau melihat di bawah orang-orang yang melakukan body rafting silih berganti lewat. Berbagai pertanyaan menakutkan muncul di kepala saya: bagaimana kalau saat saya melompat ada yang lewat? Bagaimana kalau setelah saya lompat saya kebawa arus dan tidak bisa menepi? Bagaimana kalau sungai tidak cukup dalam dan ternyata ada batu di bawah sana? Tapi karena saya udah kelamaan ber-hesitate dan membuat antrian panjang dibelakang saya, akhirnya saya pun memberanikan diri melompat.

Saat saya melompat rasanya jarak antara titik lompat sampai ke aliran sungai jauh sekali, “kenapa tidak sampai-sampai?” dan begitu menyentuh air, pantat saya sakit, rupanya saya melompat dengan posisi tidak tegak, sehingga pantat duluan yang kena air -_-. Kemudian badan langsung mengikuti aliran sungai, dengan sedikit berenang saya mencapai pinggir sungai ke tempat teman-teman saya menepi. “No Pic, Hoax” you ask? Well, karena kamera dan hp saya K.O jadinya tidak ada yang mengabadikan tindakan heroik(?) saya tersebut T.T

Jangan sangka jalur balik lebih mudah dari jalur pergi. Memang mengikuti arus sih, tapi dengan arus sekuat itu dan batu-batu sebanyak itu, tetap berbahaya. Maka perjalanan kembali ke perahu pun harus tetap mengandalkan pegangan pada tali dan kerjasama tim yang baik. Overall, puass.. puas basah-basahan, puas seger-segeran, puas adrenalin rush, puas pegel-pegel.Pantai Batu Karas – Mendung

Pulang dari Green Canyon, kami menyempatkan mampir ke pantai Batu Karas yang tidak terlalu jauh dari penginapan. Sore itu hujan gerimis turun kembali, iya kami main-main di pantai sekaligus main hujan-hujanan. Jadi jika kemudian ada yang bertanya “emang ada pantai yang dingin?”, maka saya dan teman saya pasti akan menjawab “ada! Pantai Batu Karas”😛 ehehe..

Pantai Batu Karas - Mendung

Pantai Batu Karas – Mendung

Malam minggu, seharusnya romantis, suasana pinggir pantai, mendengarkan debur ombak, sambil makan seafood. Tapiiiiii, malam minggu di pinggir pantai nan romantis itu diwarnai dengan hujan sangat lebaaatttt -__-. Untung penginapan kami bersebelahan dengan rumah makan seafood yang dimiliki oleh seorang bule cewek, and surprisingly harganya tidak terlalu mahal. Setelah makan, dikarenakan hujan, jadi tidak bisa pergi kemana-mana, balik ke penginapan, nonton tipi, dan tidur.

Hari minggu, masih gerimis tapi kami tetap memutuskan untuk mampir sebentar ke Pantai Pangandaran. Sedikit mainstream sih, and as expected hari minggu banyak orang banget. Kami pun menyewa perahu kecil untuk sampai ke sisi yang disebut pantai pasir putih, masih wilayah pantai Pangandaran tapi kalau jalan kaki lumayan jauh. Di Pantai Pasir Putih, terdapat koloni monyet-monyet yang memang hidup di sana. Para pengunjung pun disarankan untuk waspada dan menjaga barang bawaannya, karena monyet-monyet di sana “sedikit” usil.

we've got the chemistry

we’ve got the chemistry

family on vacation

family on vacation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s