Sehari di Yogjakarta

Posted: December 10, 2013 in Jalan-jalan, My Day
Tags: , , ,

Read herehttp://lilishafwa.wordpress.com

Pertengahan Agustus 2013, untuk ke empat kalinya saya mengunjungi Kota Yogjakarta sejak tahun 2010 (halaaahh). Dengan persiapan kurang dari seminggu, saya dengan teman nekat saya, RA (jah pakai inisial segala ahaha), memutuskan untuk pergi ke Yogjakarta ala backpacker spontan dan nekat😀

Kami berangkat dari stasiun Bandung, dengan keadaan belum mendapatkan bookingan penginapan.. jadi di stasiun sembari menunggu jam keberangkatan kereta, kami sibuk telpon sana sini mencari penginapan yang masih kosong dengan hasil nihil. Sehingga akhirnya pasrah dan meyakinkan diri bahwa di sana pasti akan ada penginapan yang kosong.

Setelah 8 jam perjalanan, sampailah subuh-subuh di Kota Yogjakarta dan kemudian membawa ransel berjalan kaki menyusuri jalan-jalan sekitar jalan Sosrowijayan. Dengan bantuan “calo” kami memasuki gang-gang kecil di Sosrowijayan yang banyak terdapat penginapan, yang mana memang pada penuh. Sampai pada akhirnya kami dapat satu kamar yang kosong, untuk sementara bisa lah dipakai untuk mandi dan istirahat sebentar, dan satu kamar lagi kosong pada siang hari. Biaya penginapan per kamar per malam Rp. 100.000,-  Kalau punya waktu lebih sebaiknya cari-cari aja lagi, pasti ada yang bisa kurang dari 100rb permalam.

Setelah mandi, kami langsung cusss pergi jalan-jalan menggunakan motor sewaan yang diantarkan oleh agen penyewaan. Di Yogjakarta memang tidak ada (jarang) angkutan kota semacam angkot seperti di Bandung, transportasi umum yang nyaman salah satunya adalah Trans Yogjakarta (saya paling jauh naik Trans YK sampai Candi Prambanan) dan untuk jarak dekat bisa pakai becak. Namun, profilnya sebagai kota wisata membuat kota ini selain mempunyai banyaaak sekali penginapan untuk memudahkan wisatawan, juga banyak sekali bisnis penyewaan kendaraan seperti motor dan mobil dengan harga yang realtif murah, dan bahkan ada yang bisa diantar seperti agen penyewaan yang kami pakai. Harga sewa motor Mio adalah Rp 50.000,- sehari (24 jam) dengan menggunakan 3 dokumen (KTP dan/atau SIM dan/atau Tiket Kereta) sebagai jaminan. Banyak juga penginapan yang memiliki penyewaan motor dan mobil, dilengkapi dengan peta wisata.

Destinasi pertama (dan utama) kami adalah Candi Borobudur di Magelang yaitu 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Mengandalkan google maps, petunjuk jalan, tanya sana-sini dan dengan sedikit pede menggunakan jalan alternatif masuk ke daerah pedesaan yang digunakan pada saat terjadi erupsi gunung Merapi. Akhirnya tiba dengan selamat di Borobudur setelah sekitar 2 jam perjalanan. Cuaca panas sodara-sodara, pastikan pakai pakaian tertutup dari atas sampai bawah, jangan tiru kami yang apa adanya dan pasrah terbakar matahari.

Well, ekspektasi pertama saya sebelum ke Candi Borobudur adalah akan merasakan mystical feeling yang overwhelming seperti saat saya berkunjung ke Candi Prambanan. Tetapi entah kenapa begitu sampai di sana, saya merasa biasa saja. Mungkin karena kepanasan, atau karena terlalu banyak pengunjung di sana atauu karena Candi Prambanan adalah candi pertama yang pernah saya liat sehingga waktu itu serasa sangat waaww. Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 30.000,- per orang, kami memasuki kawasan dengan memakai kain samping yang diikatkan di pinggang.

Kawasan Candi sangat luas, dan untuk mencapai bangunan Candi kita harus menaiki tangga. Saya tetap berpesona dengan kemegahannya, bagaimana tidak, “Candi berbentuk stupa itu didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha” <– menurut wikipedia :p – nah gimana coba orang-orang jaman belum ada alat berat dan alat bangunan lainnya itu bisa bikin bangunan sebegitu besarnya dengan detil pahatan yang mengagumkan. No wonder lah klo masuk World’s Herietage Site by UNESCO.

Borobudur

Borobudur

Setelah puas melihat-lihat dan berfoto-foto tentunya [fotonya belum puas deng, hp lowbat :(], kami tidak mau membuang waktu untuk pergi ke tempat selanjutnya yaituuuu Pantai di Gunung Kidul. Ya, kami pergi dari Utara ke Selatan, dalam satu hari, menggunakan motor, siang bolong nan cerah ceria. Can you imagine that? Hebat kaaannn…muahahahahaha namanya juga nekat.

Setelah makan siang di Yogja (iya, dari Magelang kami kembali ke Yogjakarta) langsung go again to Gunung Kidul. Dan itu jauh sodara-sodara khususnya jika menggunakan motor. Itu kali kedua saya ke kawasan Pantai Gunung Kidul, yang pertama tidak terlalu terasa jauh karena menggunakan bus rombongan. Untungnya jalanan di Yogja sangat mulus sekali sehingga motor bisa melaju kencang dengan nyaman. Dengan matahari yang sangat bersemangat sekali hari itu, perjalanan terasa sangat jauh dan panjang dan tidak sampai-sampai.

Setelah sekitar 3 jam perjalanan, sampailah kami di Pantai Sundak. Yang juga kali kedua untuk saya, namun karena teman saya belum pernah, ya sudah saya mengalah saja (baik hati kan gue Mond? :P). Kali pertama saya ke Pantai Sundak adalah dalam rangkaian trip Karimun Jawa yang ga jadi (maaf, postingannya blm di update), saat itu pantai sedang dalam keadaan surut sehingga bisa berjalan agak ke tengah laut di atas karang-karang yang ditumbuhi rumput laut hijau. Kali ini pantai dalam keadaan pasang, sehingga pemandangan yang dulu saya liat menjadi tidak sama.

Atas: surut Bawah: Pasang

Atas: surut
Bawah: Pasang

Di sisi kanan dan kiri pantai Sundak terdapat tebing yang bisa didaki untuk mendapatkan pemandangan dari atas. Tebing disebelah kiri bisa didaki dengan menaiki tangga kayu yang sebelumnya harus bayar dulu Rp.3000,-. Di sini tidak bisa foto-foto bagus karena arah matahari. Kemudian kami mencari jalan untuk naik ke tebing sebelah kanan yang ternyata bisa lewat jalan kecil di sebelah warung-warung dekat tempat parkir motor. Tebing di sebelah kanan bisa dinaiki dengan gratis, pemandangannya bagus dan bisa foto-foto dengan nyaman😀

Pantai sundak termasuk pantai dengan garis pantai pendek, sehingga di sini lebih sepi wisatawan dibandingkan pantai tetangganya yaitu pantai Indrayanti sehingga lebih nyaman untuk dinikmati. Dan mungkin karena diapit oleh dua tebing yang agak menjorok ke laut, ombaknya pun lebih tenang dan tidak terlalu tinggi seperti di Pantai Indrayanti.

Pantai Sundak

Pantai Sundak

Pantai Sundak

Pantai Sundak

Dalam perjalanan pulang, kami mampir sebentar untuk beristirahat di tempat yang disebut dengan “bukit bintang”. Disebut begitu karena di tempat ini kita bisa melihat kelap-kelip lampu kota Yogjakarta dari atas yang tampak seperti ribuan bintang.  Lapar, dingin, dan capek membuat mi rebus dan teh hangat menjadi sangat nikmat rasanya. Sayangnya kami datang ke sana kurang malam, sehingga “bintang”-nya kurang kontras dengan langit menjelang sunset. 

makan mi rebus sambil liat "bintang"

makan mi rebus sambil liat “bintang”

Dalam perjalanan pulang dan hari sudah gelap, teman saya masih penasaran dengan Candi Prambanan yang bisa dipastikan sudah tutup jam segitu. Maka tetap pergilah kami ke lokasi Candi Prambanan, dan hanya bisa memandang puncak Candi dari luar pagar dan dari jalan raya. Lain kali kita balik lagi ya Mond, pas udah buka :p

Kami sampai ke penginapan sekitar jam 7 malam, dan saya menyerah maunya langsung istirahat saja, karena besok pagi sudah harus pulang dan sangat butuh meluruskan pinggang setelah lebih dari 10 jam di atas motor. Sedangkan Raymond, lanjut jadi anak nongkrong di Malioboro.

Hari minggu pagi, setelah menyempatkan sarapan di tukang bubur ayam Jakarta (di YK malah makan bubur Jakarta yah) dekat stasiun kereta api yang direkomendasikan oleh teman saya, kami kembali berkereta api tut tut tut kembali menuju bandung. Sedikit menyesal kenapa tidak beli tiket kelas eksekutif saja, kelas bisnis berisik sehingga tidak bisa istirahat. Sedikit rejeki yang kami dapat di kereta adalah: menyewa bantal dan beli makan siang tapi sampai Bandung tidak ada yang menagih biayanya ahahaha \m/

Jadi begitulah pengalaman #nekatTraveler dan #travellingMendadak kami dan pengalaman jalan-jalan di YK dengan waktu satu hari saja. Walaupun banyak sekali destinasi wisata yang terlewatkan, tapi kan lain kali bisa balik lagi ke sini🙂 Jika ingin mencoba, persiapkan fisik terlebih dahulu, itu penting. Dilihat dari proses perjalannya memang terlihat melelahkan, tapi itulah seninya jalan-jalan. Perjalanan menuju destinasi itu dinikmati saja, susah senang capek atau tidak itu tergantung cara pandang kita saja, sedangkan destinasi adalah bonus dari travelling itu sendiri. #tsaelaaah

Peace, Love, and Gaoooll!!

Peace, Love, and Gaoooll!!

Tunggu cerita #TravellingMendadak dan #NekatTraveler kami yang selanjutnya :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s